Tulisan ini ditulis oleh Zaidinoor. Ka Zai, biasanya saya panggil. Mantan wartawan Kalimantan Post ini sekarang lagi hobby menulis sastra. Tak pernah jenuh beliau mengajak saya untuk menulis sastra. Karena menurutnya, sastra itu unik, dan tak ada larangan seseorang untuk berkarya sastra, baik itu berisi tentang kritik sosial, politik, hukum, dan lainnya. Dan tulisan ini beliau kirimkan lewat sebuah pesan untuk dibaca, dan saya pun akan membaginya lewat blog ini. Selamat membaca, doakan saya agar banyak menghasilkan karya terutama dalam sastra..
***
Tangan keriputnya gemetar saat menorehkan pisau pada batang pohon yang hanya sebesar lutut orang dewasa itu. Setelah torehannya hampir melingkari batang, barulah titik-titik cairan kental putih muncul pada bekas goresan pisaunya. Getah mengalir lamban menuju susudu. Kemudian tetes demi tetes jatuh ke dalam tempurung.
Ini adalah pohon karet terakhir dari enam belas batang yang disadap Ni Siti, dan matahari sudah lebih dari duduk di atas kepala. Setelah membersihkan pisau sadapnya, Ni Siti duduk di samping tangkitan yang diletakkannya tak jauh dari batang karet terakhir tadi.
Ni Siti ingin istirahat sebentar sebelum pulang sambil menunggu getah karet terkumpul di tempurung. Dengan istirahat sebentar, ia berharap bisa mengumpulkan tenaga buat memungut ranting yang bisa di dapat sepanjang tepian jalan pulan untuk dijadikan kayu bakar.